Seiring dengan tumbuhnya volume kendaraan pribadi, khususnya sepeda motor, belakangan ini pemerintah kota Malang Raya berencana membangun proyek jalan tol Malang-Pandaan yang akan dilaksanakan tahun ini. Dalam benak kita, kita pasti bertanya-tanya, untuk apakah proyek pembangunan jalan tol?Jawabannya tak lain adalah untuk menanggulangi kemacetan, bukan menekan angka/volume kemacetan. Yang membuat perasaan saya miris adalah tatkala banyaknya lahan-lahan warga yang pada akhirnya nanti tergusur akibat proyek pembuatan jalan tol besar-besaran. Malahan beberapa pekan sebelumnya di media cetak/internet sempat diberitakan ada sejumlah warga yang protes tentang proyek ini karena terimbas pada penggusuran lapangan sepak bola dan pemakaman Cina. Belum lagi area persawahan, ladang, dan rumah-rumah pinggiran. Padahal kemacetan yang terjadi di Malang Raya akhir-akhir ini lebih disebabkan oleh meningkatnya volume kendaraan pribadi dari tahun ke tahun sementara ruas area jalan tetap sama. Kalaupun sudah dibangun jalan tol, belum tentu kemacetan akan berkurang dengan sendirinya, malah mungkin akan semakin bertambah parah. Akar permasalahannya adalah penjualan kendaraan pribadi yang semakin meningkat ditambah lagi dengan problem-problem lainnya seperti pertambahan penduduk dan permintaan konsumen pada pasar otomotif yang semakin tinggi. Kenapa pemerintah Malang Raya tidak terpikirkan soal pembangunan transportasi umum yang nyaman ataupun pengadaan bus sekolah untuk para pelajar?Lihat saja sekarang! Makin tahun jumlah pengguna sepeda motor semakin meningkat, lebih parah lagi jika pemerintah pusat sudah mencabut subsidi BBM kendaraan roda empat pada 4 April 2012, tentu banyak masyarakat yang akan beralih untuk menggunakan motor karena subsidi BBM bagi kendaraan roda dua masih diberlakukan. Area-area untuk pejalan kaki pun juga menjadi masalah akhir-akhir. Lihat saja, banyak trotoar-trotoar yang rusak ditambah lagi dengan pengalihan fungsi trotoar untuk menjadi 'jalan pintas' bagi pengendara motor dan PKL sehingga pejalan kaki sama sekali tidak mendapatkan ruang. Maka tak heran jika jumlah pejalan kaki akhir-akhir ini banyak berkurang bahkan bisa dihitung dengan jari sekalipun.
Maraknya pengguna motor dikalangan remaja dibawah umur, khususnya para pelajar, juga menjadi masalah utama pada topik ini. Pihak sekolah saja sampai kewalahan tatkala melihat area parkir sekolah yang semakin sempit karena banyak para pelajar yang membawa motor ke sekolah. Meskipun pihak sekolah sudah membuat aturan larangan bagi para pelajar untuk membawa motor ke sekolah, namun tetap saja banyak para pelajar yang membawa motor namun dititipkan ke area-area di sekitar sekolah, tepatnya di pentipan motor milik warga. Namun wajib diketahui bahwa lahan milik warga juga terbatas sama halnya dengan area jalan raya. Jika pengguna motor di kalangan pelajar semakin meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan bertambahnya jumlah siswa baru (SMP-SMA) dari tahun ke tahun, apa bukan mustahil jika pada akhirnya banyak area-area perumahan warga yang akan beralih fungsi menjadi lahan parkir siswa?Mungkin untuk saat ini efeknya belum terasa, namun pada 5-10 tahun ke depan nantinya imbasnya baru akan terasa. Berarti sudah saatnya bagi pemerintah di Malang Raya, khusunya di Kota Wisata Batu untuk memberikan fasilitas berupa bus sekolah guna memudahkan para pelajar untuk pergi ke sekolah tanpa harus membawa kendaraan sendiri dari rumah. Itu berarti siswa tidak perlu lagi merogoh uang untuk membeli BBM.
Namun jika pemerintah kota Malang Raya tidak segera mengantisipasi permasalahan yang saya tulis di atas, maka dapat saya simpulkan berbagai macam dampak dibawah ini:
1. Lapangan sepak bola akan semakin langka gara-gara proyek jalan tol, kalau sudah begini masyarakat mau main bola dimana?Apa main di jalanan aspal yang dilalui kendaraan bermotor?Jelas tidak mungkin!
2. Area-area penting seperti pemakaman umum/Cina, rumah pinggiran, sawah, dan ladang akan tergusur dengan sendirinya.
3. Lahan subur yang berfungsi untuk menyerap air saat terjadi hujan atau banjir tertutupi oleh aspal tol yang padat, ntar kalau terjadi banjir gimana?
4. Jasa transportasi umum baik bus, angkot, bahkan jasa ojek akan terancam bangrkut karena saat ini sudah banyak masyakarakat yang sudah memiliki sepeda motor dengan cicilan kredit yang menggiurkan, lebih-lebih para pelajar sekolah tingkat SMP-SMA. Anak sekolahan sekarang mana mau disuruh naik angkot kalau mereka sudah bisa beli motor?
5. Hilangnya hak pejalan kaki karena pemerintah hanya fokus pada proyek pembangunan jalan tol dan perbaikan jalan raya saja, sementara insiatif dari pemerintah untuk memperluas area bagi pejalan kaki sama sekali tidak ada. Ini terbukti bahwa banyak trotoar-trotoar yang rusak & dialihfungsikan oleh pihak-pihak yang tidak memiliki hak untuk menggunakannya, seperti PKL, pengguna motor, mungkin juga area parkir liar.
6. Pengemudi mobil mau tidak mau harus beralih ke motor jika mereka tidak mau membeli Pertamax. Kalau sudah begini keadaannya, jumlah pengemudi mobil 1:10 dengan jumlah pengendara motor 5-10 tahun ke depan. Mobil akan kehilangan eksistensinya di jalan raya.
7. Tempat-tempat penitipan sepeda motor yang dikhususkan untuk para pelajar "pelarian" karena masih dibawah umur akan semakin menjamur (bukannya berkurang) di komplek-komplek sekitar area sekolah. Apa warga mau jika area perumahannya penuh disesaki motor pelajar 5-10 tahun kedepan?Ntar kalo ingin menempatkan pot di teras gimana kalo terasnya dijejali oleh motor-motor para siswa?
8. Sepeda motor akan menjadi "King of Street" & "penjajah jalanan" bagi semua pengguna jalan.
9. Pasar otomotif motor seperti halnya dealer-dealer motor semakin menjamur kemana-mana mengingat semakin suksesnya penjualan motor di pasaran.
9 poin tersebut harus menjadi bahan renungan bagi pemerintah, khususnya Pemkot Malang-Batu untuk sesegera mungkin mengatasi permasalahan ini dengan mengembangkan sistem transportasi umum yang nyaman, aman, dan terjangkau tanpa perlu lagi melakukan pelebaran proyek jalan tol yang menghabiskan banyak lahan warga.
Mohon respon dari Pemkot Malang-Batu.
21 Januari 2012
Proyek Jalan Tol di Kota Malang Raya, Lahan Warga Terancam 'Digusur', Sepeda Motor Jadi 'Raja Jalanan'
31 Desember 2011
Revolusi Sepeda Motor, Hak Pejalan Kaki Terancam
Sepeda motor adalah sebuah kendaraan yang paling banyak diminati oleh masyarakat Indonesia, seperti halnya masyarakat Sisir Batu karena praktis dan mampu melawan kemacetan. Sesuai dengan artikel dari harian Jawa Pos, 1 Januari 2012 yang ditulis oleh Dahlan Iskan, bahwa revolusi sepeda motor saat ini telah memberikan banyak kemudahan pada masyarakat saat ini, mengingat sepeda motor adalah kendaraan yang mudah dijangkau dengan jarak terpaut 5-10 km setara dengan orang naik bus malam. Masyarakat juga dimudahkan dengan adanya cicilan kredit motor yang menggiurkan dengan hanya bermodalkan KTP dan uang 500.000, sehingga masyarakat menengah kebawah pun bisa menjangkaunya. Memang, sekilas tampaknya artikel tersebut merupakan kabar gembira karena saat ini banyak masyarakat kita yang sudah memiliki dan menggunakan sepeda motor untuk keperluan formal ataupun informal, seperti sekolah, bekerja, dan sholat Jum'at di masjid. Masyarakat juga tidak perlu lagi memanfaatkan transportasi umum tatkala hendak bepergian karena mereka berpikir dengan menggunakan sepeda motor dapat mempersingkat waktu untuk sampai ke tujuan.
Namun yang menjadi permasalahan disini adalah jumlah peningkatan pengguna motor yang semakin tinggi selama bertahun-tahun seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, sementara ruas area jalan tetap sama. Secara otomatis kondisi semacam ini berpotensi menimbulkan dampak kemacetan dan rawan kecelakaan tentunya. Belum lagi saat terjadi kemacetan, banyak pengendara motor yang akhirnya naik ke trotoar untuk melawan arus. Sebenarnya tidak hanya di trotoar saja, di gang-gang kecil yang umumnya digunakan orang untuk berjalan kaki pun akhirnya menjadi tempat bagi pengendara motor untuk melewati jalan pintas ketika di jalan raya sedang macet total. Lalu dimanakah para pejalan kaki bisa memperoleh ruang kalau keadaannya begini?Mengingat pula pengendara motor adalah salah satu pengguna jalan yang kebanyakan tidak mau mengalah bahkan disalahkan sekalipun, seperti dengan mobil dan pejalan kaki. Mereka merasa bahwa pengguna motor mendominasi area jalan raya, seakan-akan mereka adalah "King of Street" bagi pengguna jalan yang lain.
Saat ini jumlah pejalan kaki di kawasan Kota Batu sangat sedikit, bahkan mungkin tidak ada sama sekali. Masyarakat cenderung dimanjakan oleh mesin, seakan-akan kedua kaki mereka tidak lagi berfungsi secara vital dan alamiah untuk berjalan kaki. Padahal kedua kaki kita merupakan anugerah dari Sang Maha Kuasa yang harganya tak ternilai. Coba bayangkan, saat kedua kaki kita patah karena kecelakaan, untuk menggantinya dengan kaki palsu memerlukan biaya yang sangat mahal sampai belasan juta tanpa bisa dikredit seperti halnya membeli motor. Sedangkan masyarakat saat ini cenderung suka mengendarai motor walaupun jaraknya hanya terpaut sekitar 10 meter. Yang lebih miris lagi adalah pengguna sepeda motor dikalangan anak-anak remaja yang emosinya masih labil. Jika mereka tidak memiliki SIM resmi (bukan SIM tembak), secara otomatis mereka tidak pengetahuan tata cara berkendara dengan baik, sehingga saat mereka mengedarai motor di jalan banyak melakukan pelanggaran yang ujung-ujungnya terjadi kecelakaan. Biasanya mereka suka mengendarai motor hanya sekedar untuk ajang pamer, narsis, dan meninggikan gengsi belaka, sementara mereka belum bisa mengendalikan emosi dengan baik saat berkendara sehingga bisa membahayakan keselamatan orang lain. Mereka terjebak di dunia mimpi, dimana mereka sangat terobsesi dengan pengendara motor seperti Valentino Rossi dan Casey Stoner, dimana kedua orang ini adalah pengedara favorit di dunia MotoGP karena mereka bisa mengendarai dengan kecepatan tinggi. Tidak heran bahwa saat ini banyak adanya aksi balap liar dari kalangan anak-anak remaja guna menyamai kemampuan Rossi dan Stoner, padahal untuk bisa menjadi pengendara handal seperti mereka perlu banyak waktu untuk latihan berkali-kali dan perlu perjuangan yang sangat berat untuk bisa menjadi pengendara profesional seperti sekarang ini. Sementara kebanyakan para pelaku balap liar, tanpa latihan seberat apapun, langsung terjun ke jalan begitu saja dan mengabaikan aturan-aturan berkendara demi memenuhi hasrat obsesi idola mereka. Kalau sudah begini kan nyawa orang lain yang menjadi ancaman, terutama para kaki yang lebih rawan.
Di negara maju saja, para pejalan kaki sangat dihargai eksistensinya. Mereka memperoleh ruang dan fasilitas yang cukup luas dan nyaman untuk berjalan kaki tanpa perlu khawatir diserempet oleh motor seperti yang terjadi di Indonesia. Cobalah mereka sadar dan bisa bersyukur, banyak orang yang cacat kaki ingin memiliki kaki agar bisa berjalan seperti orang-orang yang memiliki kaki yang normal. Janganlah gampang dimanja oleh kendaraan sepeda motor. Bagi mereka yang tidak memiliki SIM atau masih dibawah umur, lebih bijak jika mereka memanfaatkan transportasi umum dan jalan kaki untuk bepergian. Daripada mereka kena tilang atau terjadi kecelakaan karena tidak bisa mengendalikan emosi mereka karena faktor usia labil lalu kemudian terjadi kecelakaan, bukankah lebih baik mereka jalan kaki saja?Ingat, jangan memaksakan kehendak memiliki motor hanya karena sebatas gengsi dan berpikir instan belaka.
17 November 2011
Situasi Perkampungan Sisir 2011
Boleh jadi dibilang sangat menyedihkan situasinya. Keadaan perkampungan Sisir Batu tampaknya telah berubah 360 derajat dari sebelumnya. Saya akan membeberkan poin-poinnya disini.
1. Gaya hidup masyarakat Sisir yang semakin individualistis/mengutamakan kepentingan kelompok masing-masing, terutama golongan muda (ABG).
2. Banyaknya pepohonan yang ditebang untuk dijadikan perumahan.
3. Banyaknya Warteg dan Wartel yang sering tutup seiring menurunnya pendapatan.
4. Menjamurnya sepeda motor dikalangan anak-anak muda.
5. Tidak ada pejalan kaki. Rata-rata saat ini masyarakat cenderung bergantung pada sepeda motor sebagai sarana transportasi walau hanya ditempuh dengan jarak 5 kaki.
6. Aktivitas warga hanya berjalan hingga pukul 18.00. Lihat saja, baru beberapa jam ba'da Maghrib, rumah-rumah warga pada "tutup warung".
7. Kondisi jalan yang semakin sunyi dari tahun ke tahun.
8. Banyaknya para bikers dibawah umur yang maniak sepeda motor.
9. Hilangnya aktivitas kegiatan olahraga di kalangan anak muda Sisir. Rata-rata mereka lebih menyukai aktivitas bersepeda motor seenaknya dibandingkan dengan permainan sepak bola yang sebelumnya menjadi aktivitas rutin anak-anak muda tiap sore.
10. Regenerasi masyarakat dari golongan tua ke golongan muda.
11. Dimana ada gerombolan remaja, disana ada sepeda motor, hp, dan para gadis mejeng dengan tingkah laku yang alay.
Mungkin saya hanya bisa membeberkan 11 poin dari situasi yang ada. Sebenarnya masih banyak poin-poin diatas yang ingin saya tuliskan, namun sayangnya karena keterbatasan waktu.
14 Agustus 2011
Suasana Ramadhan 2011/1432 H Yang Semakin "Kering"
Jika dilihat dari perbandingan tahun-tahun sebelumnya, suasana bulan Ramadhan di tahun 2011 tampaknya semakin sepi dan masyarakat Kelurahan Sisir semakin "kelihalangan kejayaan". Hal tersebut terbukti dengan semakin minimnya aktivitas-aktivitas ngabuburit yang dilakukukan oleh masyarakat Sisir. Jika dahulunya anak-anak muda menghabiskan waktu ngabuburitnya dengan cara bermain bola di lapangan kampung, namun saat ini aktivitas semacam itu tampaknya sudah tak terlihat lagi. Kondisi perkampungan sangat sepi layaknya sebuah tempat pemakaman umum. Sama halnya dengan kegiatan sholat Tarawih. Hanya pada hari pertama hingga menjelang hari ke-10, jumlah jemaah tarawih meluber hingga keluar jalur area mushola. Namun memasuki pertengahan hari ke-14, jumlah jemaah yang menunaikan ibadah sholat tarawih di Mushola Al-Ikhlas hanya menyisakan 1 baris dari jumlah 4-5 shaf yang ada. Padahal baru saja memasuki 10 hari kedua. Bisa jadi tatkala memasuki 10 hari ketiga, jumlah jemaah sholat tarawih akan semakin menipis jumlahnya layaknya jumlah jemaah sholat Maghrib di hari-hari biasa. Benar-benar memprihatinkan. Yang tak kalah nahas dari keadaan semacam itu adalah kegiatan kentongan sahur yang benar-benar sudah "mati" di kawasan RT01/Rw01 Kelurahan Sisir. Jika pada kasus di tahun sebelumnya, alasan para remaja untuk tidak melakukan kegiatan ini lantaran ada beberapa warga yang protes serta melarang kegiatan kentongan sahur karena dianggap mengganggu tidur para warga, untuk tahun ini pun "setali tiga uang", walaupun masih menjadi polemik masyarakat sekitar. Yang jelas, mereka secara rutin melaksanakan kegiatan kentongan sahur sekitar pukul 02.00 hingga pukul 03.00 dini hari, karena akan sangat mustahil jika mereka melaksanakan kegiatan kentongan sahur mulai pukul 03.00, karena pada jam-jam tersebut mereka (para pelaksana kegiatan patrol sahur) harus segera melakukan sahur untuk mengejar waktu sebelum Imsak tiba. Dari kasus tersebut, saya menduga (bukannya suudzan) jika ada oknum warga atau mungkin orang-orang baru yang tidak mampu beradaptasi dengan keberadaan kegiatan patrol sahur di lingkungan RT01/RW01 sehingga mereka melaporkannya kepada pihak warga atau RT setempat dan meminta mereka untuk melarang para remaja melaksanakan kegiatan ketongan sahur di kawasan RT01/RW01, karena larangan tersebut adalah suatu hal yang sangat tidak wajar, mengingat di tahun-tahun sebelumnya belum ada protes semacam itu.
Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa antusiasme masyarakat Sisir untuk menyambut bulan Ramadhan sudah semakin menurun. Mungkinkah ini suatu pertanda bahwa akhir zaman semakin dekat di mata kita?Wallahu a'lam.
Dan bagaimanakah suasana Bulan Ramadhan di tahun 2012/1433 H mendatang?Kita lihat saja nanti.
26 Juli 2011
Hilangnya Budaya Jalan Kaki dan Maraknya Penggunaan Motor Di Dusun Sisir Batu
Budaya jalan kaki merupakan suatu kebiasaan lazim yang dilakukan oleh masyarakat kita untuk pergi dari satu tempat ke tempat lain. Tentu saja, dengan rutinnya kita berjalan kaki, maka tubuh kita akan menjadi sehat dan segar, tidak terlalu tegang dan kaku.
Namun, sejak maraknya pengguna sepeda motor di kalangan masyarakat (terutama remaja), budaya jalan kaki seakan hilang begitu saja. Saya sampai geleng-geleng kepala, manakala saya melakukan aktivitas jalan kaki sepanjang jarak 10-15 meter, tidak secuilpun saya melihat orang-orang bepergian dengan berjalan kaki. Hampir semua orang ketika ingin pergi keluar rumah menggunakan sepeda motor, walau hanya dengan jarak 10 meter. Wajar saja, saat ini hampir semua masyarakat Sisir memiliki sepeda motor dengan cicilan kredit yang sangat murah sehingga mudah dijangkau oleh masyarakat menengah kebawah sekalipun. Tapi, apakah hal semacam itu sangat "kebangeten" sekali? Sang Pencipta menganugerahi kita sepasang kaki agar kita bisa berjalan kemanapun, dan tentu saja bermanfaat bagi kesehatan tubuh kita.
Kaki kita seakan-akan tidak lagi memiliki fungsi untuk menjalankan sebuah aktivitas jika masyarakat kita masih ketergantungan pada sepeda motor. Menurut hemat saya, sepeda motor akan lebih baik digunakan saat kita sedang bepergian jauh dengan jarak kira-kira puluhan km/jam (misalnya mudik, pergi ke kantor, mall, dsb). Tengok saja di negara-negara maju seperti Jepang, misalnya. Meski negara Tirai Bambu merupakan produsen sepeda motor terbesar di Asia, tapi tengoklah masyarakat disana. Mereka lebih suka bepergian dengan berjalan kaki atau bersepeda onthel. Bahkan para pelajar sekolah, mahasiswa, dan pegawai negeri pun juga bepergian dengan berjalan kaki. Pengguna sepeda motor di Jepang sangat jarang dan merupakan kebalikan dari negeri kita yang lebih suka naik motor dengan dalih menghemat waktu.
Saya juga memperhatikan jalanan umum di kawasan Kota Batu. Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, jumlah pejalan kaki relatif sedikit. Jalanan seakan-akan dikuasai oleh para pengendara motor. Bahkan kendaraan mobil pribadi pun juga kalah saingan, alias sering kena macet. Yang lebih nahas lagi adalah jasa mikrolet dan ojek. Penghasilan mereka untuk meraup untung relatif sedikit lantaran para pelanggan mereka sudah memiliki kendaraan pribadi (terutama motor). Saya ingin sedikit berbagi pengalaman disini. Kalau tidak salah, sekitar tanggal 1 Juni 2011 saya pergi ke Malang untuk menghadiri suatu acara penting. Selepas mengikuti acara tersebut, saya memutuskan untuk pulang dengan naik angkot jurusan Landungsari- Pasar Batu (ungu). Sopir angkot yang kutumpangi tampaknya merasa sedih dan hanya bisa berkeluh kesah dan pasrah. Bagaimana tidak?Dari jurusan Landungsari hingga berhenti di Pasar Batu, tersisa hanya 2 penumpang (termasuk saya) yang naik angkot tersebut. Padahal jarak antara Landungsari hingga Pasar Batu mencapai puluhan kilometer yang mestinya bisa mendatangkan banyak penumpang, kini sangat sedikit. Sopir tersebut merasa khawatir jika penghasilannya menurun lantaran sulit memperoleh penumpang. Saya pun merasa sedih melihat sopir itu. Setelah turun dari Pasar Batu, saya meneruskan perjalanan pulang ke rumah. Namun tampaknya di berbagai ruas jalan hanya aku seorang yang pulang berjalan kaki. Sementara saya tidak melihat seorangpun yang berjalan kaki disana.
Para ojek tampaknya juga bernasib sama. Di kawasan RT02/RW01 tepat dibelakang SDN Sisir 04 Batu dulunya adalah pangkalan ojek yang selalu laris manis bisnisnya karena sering kedatangan para pelanggan ojek dan tempatnya yang cukup strategis. Tapi tengoklah sekarang. Tempat pangkalan ojek tersebut sangat sepi. Bahkan tempat duduk yang biasa digunakan para tukang ojek hilang entah kemana. Mungkinkah usaha mereka bangkrut karena tak memiliki pelanggan walau 1 orang saja?
Para ABG remaja pun juga setali tiga uang. Baik dari kaum pelajar ataupun yang bukan sama saja. Jika dulu para pelajar lebih suka pergi ke sekolah dengan berjalan kaki ataupun naik angkot. Tapi lihat kenyataan saat ini. Para pelajar, terutama tingkat SMP-SMA, lebih suka pergi sekolah dengan cara naik motor. Mereka mulai meninggalkan budaya jalan kaki, yang sarat dengan aktivitas berolahraga. Padahal banyak diantara mereka yang belum cukup umur dan tidak memiliki SIM. Wajar jika banyak menengok para remaja yang suka naik sepeda motor dengan cara ugal-ugalan (tak pakai helm, berboncengan tiga, tak pakai perisai badan --- maksudnya jaket khusus sebagai pelindung badan) dan bergaya alay serta mengabaikan risiko. Hal tersebut disebabkan mereka belum memahami betul tata-cara bersepeda motor sesuai aturan yang ditetapkan oleh Polantas serta emosi yang sangat labil jika dilihat dari segi psikologis mereka. Ini bukti kurangnya ketegasan orang tua terhadap tuntunan anak. Apa maksudnya?Jika mereka belum cukup umur, para orang tua dengan bangga "mempersembahkan sebuah hadiah kuda besi" kepada mereka, mentang-mentang harga motor murah (padahal biasanya kreditan). Orang tua tampaknya juga tidak memikirkan tingkat risiko apabila anak-anak mereka mengendari motor ditengah jalan lalu membuat kekacauan atau mungkin tabrakan. Padahal pemerintah Kota Batu sudah memberikan fasilitas transportasi umum seperti angkot. Bahkan di Kota Batu sekarang telah disediakan layanan jasa ojek dan angkot untuk keperluan wisata. Kenapa mereka tidak memanfaatkan angkot saja untuk pergi ke sekolah?
Mungkinkah kaki kita sudah tak lagi memiliki nilai fungsi secara alamiah?Bahkan hanya untuk berjalan sepanjang 5 meter sekalipun?Itulah anehnya negeri kita ini. Dikit-dikit naik motor. Hanya pergi ke warung atau warnet juga "lengket" sama motor, kayak surat dan prangko saja. Masyarakatnya sangat konsumtif. Lihat iklan sepeda motor di TV dengan harga murah dan cicilan kredit murah, langsung membanjiri toko dealer untuk beli sepeda motor. Aturan pembuatan SIM juga tidak seketat di negeri Jepang. Disini saja orang berusia 16 tahun sudah diperbolehkan untuk membuat SIM. Padahal jelas-jelas usia 16 tahun merupakan usia yang sangat labil, dimana perkembangan EQ anak masih lepas kendali alias sulit terkontrol.
Oleh sebab itu, marilah kita membiasakan diri untuk berjalan kaki bila hanya sekedar bepergian di tempat yang dekat. Jalan kaki membuat tubuh kita merasa lebih fresh dan terhindar dari penyakit. Kita bisa mengambil contoh dari apa yang dilakukan oleh masyarakat di negara maju (terutama Jepang) yang sangat hobi berjalan kaki.
Wassalam.
Penulis: JK, admin of Sisir Batu's Weblog.
04 September 2010
Kegiatan Ramadhan 2010 Yang Kian Memudar
Bisa dibilang kegiatan bulan Ramadhan di Sisir Batu pada tahun 1431 H/2010 mulai memudar dan lebih sepi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Misalnya seperti kegiatan "ngabuburit" di kalangan mulai anak-anak hingga remaja. Seiring dengan perkembangan IT dari tahun ke tahun, kegiatan "ngabuburit" (misal: main petasan (kalau yang ini sudah dilarang oleh pemerintah sejak 2002), sepak bola kampung, main layang-layang, jagongan di tempat-tempat terbuka) telah tergantikan oleh permainan game online di kalangan anak kecil dan Facebook-an dikalangan remaja (terutama tingkat SMP-SMA). Bicara masalah Facebook, mungkin sudah tidak asing lagi bagi para remaja yang rutin mengaksesnya. Apalagi situs Facebook mulai populer sejak pertengahan tahun 2009 hingga kini. Main Facebook (menurut pendapat penulis) merupakan salah satu kegiatan yang membuat remaja sekarang ini menjadi "kecanduan" (persis seperti narkoba). Bayangkan saja dampaknya, main Facebook telah membuat kaum remaja jadi lupa untuk mengaji (tadarus), sholat tarawih, bahkan sholat 5 waktu sekalipun. Dari sisi pendidikan, remaja pun akhirnya juga lupa untuk belajar dan mengerjakan PR. Padahal tugas seorang pelajar (terutama yang remaja) adalah belajar. Sudah ibadahnya lalai, belajar pun juga lalai. Mau jadi apa generasi muda kedepannya nanti? Fenomena semacam ini perlu mendapat perhatian luas dari kalangan masyarakat.
Kegiatan sholat Tarawih juga demikian. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya (sejak tahun 2008), di 10 malam pertama, khususnya pada hari pertama, mushola Al-Ikhlas di Sisir Batu juga sangat kekurangan para jemaah. Shaf-shaf di mushola sampai menyisakan 3-5 shaf. Jadi kalau dihitung-hitung, shaf yang terisi hanya 2 shaf saja, atau mungkin paling "notok" sampai 3 1/2 shaf saja, padahal baru hari pertama. Kemudian seiring berjalannya waktu, dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, jemaah bukannya bertambah, malah semakin berkurang dan terkadang shaf hanya terisi 1 baris saja. Kelihatannya antusiasme masyarakat untuk berlomba-lomba mencari pahala di bulan Ramadhan (seperti sholat tarawih tadi) sudah amat sangat menurun sekali.
Kegiatan kentongan sahur/patrol sahur juga setali tiga uang. Sejak kepemimpinan Kota Batu berada di tangan Eddy Rumpoko, tidak pernah ada lagi kegiatan lomba patrol sahur, yang semestinya mendorong antusiasme anak muda untuk melakukan patrol sahur di kampung mereka masing-masing, seperti di komplek Sisir Batu. Padahal di masa kepemimpinan Alm. Imam Kabul dulu, kegiatan lomba patrol sahur sering (walau tidak rutin) dilaksanakan dari tahun ke tahun, yang terbukti memacu semangat kaum remaja untuk melakukan patrol sahur di kampung pada malam hari dengan antusiasme yang amat sangat tinggi sekali. Di komplek Sisir Batu, kegiatan patrol sahur sempat "mati" pada saat 6 hari jelang lebaran pada tahun 2005 silam, kemudian kembali "dihidupkan" pada tahun 2006 hingga 2008. Namun pada tahun 2009 kegiatan ini sempat "mati" lagi, bahkan sebulan penuh tidak ada patrol sama sekali. Di tahun 2010, kegiatan patrol sempat diaktifkan kembali, namun jumlah personilnya tidak mencapai belasan, dan hanya bertahan beberapa minggu saja. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yang pertama adalah sarana dan prasarana. Memang, sejak kegiatan patrol tidak lagi dipelopori oleh remaja senior ( yang angkatan tahun 1990an hingga 2005), anggota patrol yang sekarang jadi kesulitan memperoleh dana untuk membeli perlengkapan patrol, seperti kentongan, beduk mini, "icrik-icrik", dan benda musik patrol lainnya. Hal ini disebabkan beberapa anak remaja di Sisir Batu tidak mau diajak patungan (mungkin uangnya buat beli pulsa internet, biar bisa main Facebook di Blackberry) sehingga anggota patrol harus menggunakan alat musik seadanya, misalnya seperti galon aqua yang digunakan untuk memukul. Selain itu tempat tidur di mushola yang dikhususkan oleh anggota patrol juga tidak memadai. Selimut juga tidak ada seperti dulu. Sehingga mereka terpaksa tidur di lantai depan mushola yang dingin mencekam tanpa "ditemani" selimut. Faktor kedua adalah dari lingkungan sosial itu sendiri. Konon, beberapa warga komplek Sisir berpendapat bahwa kegiatan patrol sahur amat sangat mengganggu aktivitas tidur mereka, sehingga mereka risih (pendapat semacam ini sudah amat sangat keterlaluan sekali). Padahal tujuan utama patrol sahur sendiri untuk membangunkan para warga yang sedang tidur agar bisa melaksanakan sahur lebih awal (walau sebenarnya mengakhiri sahur hukumnya sunnah dan memperoleh bonus pahala), tapi daripada nanti keburu Imsak, kan?Repot juga jadinya. Analisis mencatat, beberapa warga yang terbangun karena suara patrol dari luar bukannya malah disambut dengan baik, mereka (yang melakukan patrol) malah ditegur dan dimarahi, karena dianggap bising dan mengganggu tidur. Di luar dugaan, Pak Ketua RT 1 juga menegur dan memarahi para anggota patrol itu saat melintasi kediaman Pak RT tersebut. Yang lebih keterlaluan lagi, Pak RT malah melarang mereka untuk melakukan kegiatan patrol sahur dan menghentikan kegiatan tersebut karena dinilai mengganggu ketenangan tidur masyarakat (ngomong-ngomong siapa oknum warga yang memprovokasi larangan ini?). Saya sebagai salah seorang warga disini, selaku anggota pengurus blog ini, sangat tidak setuju jika pelaksanakan patrol sahur dihentikan, apalagi kegiatan ini sudah menjadi tradisi turun-temurun. Jujur saja, gara-gara tidak ada suara patrol sahur, saya sekeluarga "nyaris" telat melakukan sahur karena tidur terlalu nyenyak dan "nyaman". Jam weker dan ringtone hp sahur juga amat sangat tidak manjur untuk membangunkan saya di jam-jam sahur, karena suaranya tidak semerdu musik patrol yang dimainkan oleh anak-anak remaja yang lihai memainkan musik patrol (ini serius, tidak sekedar intermesso). Mungkin warga yang lain juga merasakannya. Faktor ketiga adalah cuaca dan kesehatan. Kalau diteliti baik-baik, iklim cuaca sekarang ini semakin tidak jelas, kadang hujan, kadang panas (mungkin pengaruh global warming). Kondisi cuaca semacam ini sangat mempengaruhi kondisi kesehatan para anggota patrol yang pada umumnya masih berusia rentan dan rawan terhadap serangan penyakit (meski tidak semuanya). Apalagi kalau saat mereka tidur di depan mushola yang dingin seperti itu, sangat berpengaruh pada keadaan fisik mereka. Setelah dianalisis, beberapa dari anggota mereka akhirnya jatuh sakit dan sejak saat itu, orang tua mereka melarang dan membatasi mereka untuk melakukan kegiatan patrol pada keadaan cuaca tertentu. Atau bahkan ada beberapa orang tua yang akhirnya melarang mereka untuk melakukan patrol karena dikhawatirkan kalau kesehatan mereka rapuh lagi.
Akankah kegiatan Bulan Ramadhan tahun 1432 H/2011 nanti akan menjadi lebih meriah atau bahkan lebih memudar dibanding tahun-tahun sebelumnya? Kita lihat saja nanti.
Wassalam
03 April 2010
Sejarah Kelurahan Sisir Batu
Sisir Batu awalnya merupakan sebuah pemukiman yang dikhususkan untuk para pensiunan TNI Angkatan Darat. Dulu, pemukiman ini suasananya belum padat seperti sekarang. Jumlah penduduk yang tinggal di pemukiman Sisir Batu saat itu sangat sedikit sekali. Baru ketika pada pertengahan tahun 80an, Sisir Batu baru ditempati oleh orang-orang luar Batu, tidak hanya para pensiunan TNI AD saja. Lama-kelamaan, masyarakat Kelurahan Sisir Batu yang awalnya homogen, kini menjadi heterogen.
Secara geografis, awalnya wilayah pemukiman Sisir Batu masih berupa kebun, sawah, ladang, dan berbagai jenis pepohonan lebat. Rumah-rumah masih belum banyak yang didirikan, sehingga pemukiman ini terasa amat luas tanahnya. Karena banyak ditumbuhi pepohonan lebat, udara di pemukiman Sisir Batu saat itu terasa sangat sejuk sehingga banyak masyarakat yang kerasan tinggal di pemukiman Sisir Batu ini.
Di Kelurahan Sisir Batu, dikenal istilah-istilah seperti Kodam dan Meduran. Nama Kodam berlaku untuk para pensiunan TNI AD yang bermukim di wilayah RT1 RW1, sedangkan nama Meduran berlaku untuk para pensiunan yang bermukim di wilayah RT2 RW1. Disebut Meduran karena mereka yang tinggal di RT2 mayoritas adalah masyarakat keturunan Madura.





