04 September 2010

Kegiatan Ramadhan 2010 Yang Kian Memudar

Bisa dibilang kegiatan bulan Ramadhan di Sisir Batu pada tahun 1431 H/2010 mulai memudar dan lebih sepi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Misalnya seperti kegiatan "ngabuburit" di kalangan mulai anak-anak hingga remaja. Seiring dengan perkembangan IT dari tahun ke tahun, kegiatan "ngabuburit" (misal: main petasan (kalau yang ini sudah dilarang oleh pemerintah sejak 2002), sepak bola kampung, main layang-layang, jagongan di tempat-tempat terbuka) telah tergantikan oleh permainan game online di kalangan anak kecil dan Facebook-an dikalangan remaja (terutama tingkat SMP-SMA). Bicara masalah Facebook, mungkin sudah tidak asing lagi bagi para remaja yang rutin mengaksesnya. Apalagi situs Facebook mulai populer sejak pertengahan tahun 2009 hingga kini. Main Facebook (menurut pendapat penulis) merupakan salah satu kegiatan yang membuat remaja sekarang ini menjadi "kecanduan" (persis seperti narkoba). Bayangkan saja dampaknya, main Facebook telah membuat kaum remaja jadi lupa untuk mengaji (tadarus), sholat tarawih, bahkan sholat 5 waktu sekalipun. Dari sisi pendidikan, remaja pun akhirnya juga lupa untuk belajar dan mengerjakan PR. Padahal tugas seorang pelajar (terutama yang remaja) adalah belajar. Sudah ibadahnya lalai, belajar pun juga lalai. Mau jadi apa generasi muda kedepannya nanti? Fenomena semacam ini perlu mendapat perhatian luas dari kalangan masyarakat.
Kegiatan sholat Tarawih juga demikian. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya (sejak tahun 2008), di 10 malam pertama, khususnya pada hari pertama, mushola Al-Ikhlas di Sisir Batu juga sangat kekurangan para jemaah. Shaf-shaf di mushola sampai menyisakan 3-5 shaf. Jadi kalau dihitung-hitung, shaf yang terisi hanya 2 shaf saja, atau mungkin paling "notok" sampai 3 1/2 shaf saja, padahal baru hari pertama. Kemudian seiring berjalannya waktu, dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, jemaah bukannya bertambah, malah semakin berkurang dan terkadang shaf hanya terisi 1 baris saja. Kelihatannya antusiasme masyarakat untuk berlomba-lomba mencari pahala di bulan Ramadhan (seperti sholat tarawih tadi) sudah amat sangat menurun sekali.
Kegiatan kentongan sahur/patrol sahur juga setali tiga uang. Sejak kepemimpinan Kota Batu berada di tangan Eddy Rumpoko, tidak pernah ada lagi kegiatan lomba patrol sahur, yang semestinya mendorong antusiasme anak muda untuk melakukan patrol sahur di kampung mereka masing-masing, seperti di komplek Sisir Batu. Padahal di masa kepemimpinan Alm. Imam Kabul dulu, kegiatan lomba patrol sahur sering (walau tidak rutin) dilaksanakan dari tahun ke tahun, yang terbukti memacu semangat kaum remaja untuk melakukan patrol sahur di kampung pada malam hari dengan antusiasme yang amat sangat tinggi sekali. Di komplek Sisir Batu, kegiatan patrol sahur sempat "mati" pada saat 6 hari jelang lebaran pada tahun 2005 silam, kemudian kembali "dihidupkan" pada tahun 2006 hingga 2008. Namun pada tahun 2009 kegiatan ini sempat "mati" lagi, bahkan sebulan penuh tidak ada patrol sama sekali. Di tahun 2010, kegiatan patrol sempat diaktifkan kembali, namun jumlah personilnya tidak mencapai belasan, dan hanya bertahan beberapa minggu saja. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yang pertama adalah sarana dan prasarana. Memang, sejak kegiatan patrol tidak lagi dipelopori oleh remaja senior ( yang angkatan tahun 1990an hingga 2005), anggota patrol yang sekarang jadi kesulitan memperoleh dana untuk membeli perlengkapan patrol, seperti kentongan, beduk mini, "icrik-icrik", dan benda musik patrol lainnya. Hal ini disebabkan beberapa anak remaja di Sisir Batu tidak mau diajak patungan (mungkin uangnya buat beli pulsa internet, biar bisa main Facebook di Blackberry) sehingga anggota patrol harus menggunakan alat musik seadanya, misalnya seperti galon aqua yang digunakan untuk memukul. Selain itu tempat tidur di mushola yang dikhususkan oleh anggota patrol juga tidak memadai. Selimut juga tidak ada seperti dulu. Sehingga mereka terpaksa tidur di lantai depan mushola yang dingin mencekam tanpa "ditemani" selimut. Faktor kedua adalah dari lingkungan sosial itu sendiri. Konon, beberapa warga komplek Sisir berpendapat bahwa kegiatan patrol sahur amat sangat mengganggu aktivitas tidur mereka, sehingga mereka risih (pendapat semacam ini sudah amat sangat keterlaluan sekali). Padahal tujuan utama patrol sahur sendiri untuk membangunkan para warga yang sedang tidur agar bisa melaksanakan sahur lebih awal (walau sebenarnya mengakhiri sahur hukumnya sunnah dan memperoleh bonus pahala), tapi daripada nanti keburu Imsak, kan?Repot juga jadinya. Analisis mencatat, beberapa warga yang terbangun karena suara patrol dari luar bukannya malah disambut dengan baik, mereka (yang melakukan patrol) malah ditegur dan dimarahi, karena dianggap bising dan mengganggu tidur. Di luar dugaan, Pak Ketua RT 1 juga menegur dan memarahi para anggota patrol itu saat melintasi kediaman Pak RT tersebut. Yang lebih keterlaluan lagi, Pak RT malah melarang mereka untuk melakukan kegiatan patrol sahur dan menghentikan kegiatan tersebut karena dinilai mengganggu ketenangan tidur masyarakat (ngomong-ngomong siapa oknum warga yang memprovokasi larangan ini?). Saya sebagai salah seorang warga disini, selaku anggota pengurus blog ini, sangat tidak setuju jika pelaksanakan patrol sahur dihentikan, apalagi kegiatan ini sudah menjadi tradisi turun-temurun. Jujur saja, gara-gara tidak ada suara patrol sahur, saya sekeluarga "nyaris" telat melakukan sahur karena tidur terlalu nyenyak dan "nyaman". Jam weker dan ringtone hp sahur juga amat sangat tidak manjur untuk membangunkan saya di jam-jam sahur, karena suaranya tidak semerdu musik patrol yang dimainkan oleh anak-anak remaja yang lihai memainkan musik patrol (ini serius, tidak sekedar intermesso). Mungkin warga yang lain juga merasakannya. Faktor ketiga adalah cuaca dan kesehatan. Kalau diteliti baik-baik, iklim cuaca sekarang ini semakin tidak jelas, kadang hujan, kadang panas (mungkin pengaruh global warming). Kondisi cuaca semacam ini sangat mempengaruhi kondisi kesehatan para anggota patrol yang pada umumnya masih berusia rentan dan rawan terhadap serangan penyakit (meski tidak semuanya). Apalagi kalau saat mereka tidur di depan mushola yang dingin seperti itu, sangat berpengaruh pada keadaan fisik mereka. Setelah dianalisis, beberapa dari anggota mereka akhirnya jatuh sakit dan sejak saat itu, orang tua mereka melarang dan membatasi mereka untuk melakukan kegiatan patrol pada keadaan cuaca tertentu. Atau bahkan ada beberapa orang tua yang akhirnya melarang mereka untuk melakukan patrol karena dikhawatirkan kalau kesehatan mereka rapuh lagi.
Akankah kegiatan Bulan Ramadhan tahun 1432 H/2011 nanti akan menjadi lebih meriah atau bahkan lebih memudar dibanding tahun-tahun sebelumnya? Kita lihat saja nanti.

Wassalam

0 komentar: