26 Juli 2011

Hilangnya Budaya Jalan Kaki dan Maraknya Penggunaan Motor Di Dusun Sisir Batu

Budaya jalan kaki merupakan suatu kebiasaan lazim yang dilakukan oleh masyarakat kita untuk pergi dari satu tempat ke tempat lain. Tentu saja, dengan rutinnya kita berjalan kaki, maka tubuh kita akan menjadi sehat dan segar, tidak terlalu tegang dan kaku.
Namun, sejak maraknya pengguna sepeda motor di kalangan masyarakat (terutama remaja), budaya jalan kaki seakan hilang begitu saja. Saya sampai geleng-geleng kepala, manakala saya melakukan aktivitas jalan kaki sepanjang jarak 10-15 meter, tidak secuilpun saya melihat orang-orang bepergian dengan berjalan kaki. Hampir semua orang ketika ingin pergi keluar rumah menggunakan sepeda motor, walau hanya dengan jarak 10 meter. Wajar saja, saat ini hampir semua masyarakat Sisir memiliki sepeda motor dengan cicilan kredit yang sangat murah sehingga mudah dijangkau oleh masyarakat menengah kebawah sekalipun. Tapi, apakah hal semacam itu sangat "kebangeten" sekali? Sang Pencipta menganugerahi kita sepasang kaki agar kita bisa berjalan kemanapun, dan tentu saja bermanfaat bagi kesehatan tubuh kita.
Kaki kita seakan-akan tidak lagi memiliki fungsi untuk menjalankan sebuah aktivitas jika masyarakat kita masih ketergantungan pada sepeda motor. Menurut hemat saya, sepeda motor akan lebih baik digunakan saat kita sedang bepergian jauh dengan jarak kira-kira puluhan km/jam (misalnya mudik, pergi ke kantor, mall, dsb). Tengok saja di negara-negara maju seperti Jepang, misalnya. Meski negara Tirai Bambu merupakan produsen sepeda motor terbesar di Asia, tapi tengoklah masyarakat disana. Mereka lebih suka bepergian dengan berjalan kaki atau bersepeda onthel. Bahkan para pelajar sekolah, mahasiswa, dan pegawai negeri pun juga bepergian dengan berjalan kaki. Pengguna sepeda motor di Jepang sangat jarang dan merupakan kebalikan dari negeri kita yang lebih suka naik motor dengan dalih menghemat waktu.
Saya juga memperhatikan jalanan umum di kawasan Kota Batu. Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, jumlah pejalan kaki relatif sedikit. Jalanan seakan-akan dikuasai oleh para pengendara motor. Bahkan kendaraan mobil pribadi pun juga kalah saingan, alias sering kena macet. Yang lebih nahas lagi adalah jasa mikrolet dan ojek. Penghasilan mereka untuk meraup untung relatif sedikit lantaran para pelanggan mereka sudah memiliki kendaraan pribadi (terutama motor). Saya ingin sedikit berbagi pengalaman disini. Kalau tidak salah, sekitar tanggal 1 Juni 2011 saya pergi ke Malang untuk menghadiri suatu acara penting. Selepas mengikuti acara tersebut, saya memutuskan untuk pulang dengan naik angkot jurusan Landungsari- Pasar Batu (ungu). Sopir angkot yang kutumpangi tampaknya merasa sedih dan hanya bisa berkeluh kesah dan pasrah. Bagaimana tidak?Dari jurusan Landungsari hingga berhenti di Pasar Batu, tersisa hanya 2 penumpang (termasuk saya) yang naik angkot tersebut. Padahal jarak antara Landungsari hingga Pasar Batu mencapai puluhan kilometer yang mestinya bisa mendatangkan banyak penumpang, kini sangat sedikit. Sopir tersebut merasa khawatir jika penghasilannya menurun lantaran sulit memperoleh penumpang. Saya pun merasa sedih melihat sopir itu. Setelah turun dari Pasar Batu, saya meneruskan perjalanan pulang ke rumah. Namun tampaknya di berbagai ruas jalan hanya aku seorang yang pulang berjalan kaki. Sementara saya tidak melihat seorangpun yang berjalan kaki disana.
Para ojek tampaknya juga bernasib sama. Di kawasan RT02/RW01 tepat dibelakang SDN Sisir 04 Batu dulunya adalah pangkalan ojek yang selalu laris manis bisnisnya karena sering kedatangan para pelanggan ojek dan tempatnya yang cukup strategis. Tapi tengoklah sekarang. Tempat pangkalan ojek tersebut sangat sepi. Bahkan tempat duduk yang biasa digunakan para tukang ojek hilang entah kemana. Mungkinkah usaha mereka bangkrut karena tak memiliki pelanggan walau 1 orang saja?
Para ABG remaja pun juga setali tiga uang. Baik dari kaum pelajar ataupun yang bukan sama saja. Jika dulu para pelajar lebih suka pergi ke sekolah dengan berjalan kaki ataupun naik angkot. Tapi lihat kenyataan saat ini. Para pelajar, terutama tingkat SMP-SMA, lebih suka pergi sekolah dengan cara naik motor. Mereka mulai meninggalkan budaya jalan kaki, yang sarat dengan aktivitas berolahraga. Padahal banyak diantara mereka yang belum cukup umur dan tidak memiliki SIM. Wajar jika banyak menengok para remaja yang suka naik sepeda motor dengan cara ugal-ugalan (tak pakai helm, berboncengan tiga, tak pakai perisai badan --- maksudnya jaket khusus sebagai pelindung badan) dan bergaya alay serta mengabaikan risiko. Hal tersebut disebabkan mereka belum memahami betul tata-cara bersepeda motor sesuai aturan yang ditetapkan oleh Polantas serta emosi yang sangat labil jika dilihat dari segi psikologis mereka. Ini bukti kurangnya ketegasan orang tua terhadap tuntunan anak. Apa maksudnya?Jika mereka belum cukup umur, para orang tua dengan bangga "mempersembahkan sebuah hadiah kuda besi" kepada mereka, mentang-mentang harga motor murah (padahal biasanya kreditan). Orang tua tampaknya juga tidak memikirkan tingkat risiko apabila anak-anak mereka mengendari motor ditengah jalan lalu membuat kekacauan atau mungkin tabrakan. Padahal pemerintah Kota Batu sudah memberikan fasilitas transportasi umum seperti angkot. Bahkan di Kota Batu sekarang telah disediakan layanan jasa ojek dan angkot untuk keperluan wisata. Kenapa mereka tidak memanfaatkan angkot saja untuk pergi ke sekolah?
Mungkinkah kaki kita sudah tak lagi memiliki nilai fungsi secara alamiah?Bahkan hanya untuk berjalan sepanjang 5 meter sekalipun?Itulah anehnya negeri kita ini. Dikit-dikit naik motor. Hanya pergi ke warung atau warnet juga "lengket" sama motor, kayak surat dan prangko saja. Masyarakatnya sangat konsumtif. Lihat iklan sepeda motor di TV dengan harga murah dan cicilan kredit murah, langsung membanjiri toko dealer untuk beli sepeda motor. Aturan pembuatan SIM juga tidak seketat di negeri Jepang. Disini saja orang berusia 16 tahun sudah diperbolehkan untuk membuat SIM. Padahal jelas-jelas usia 16 tahun merupakan usia yang sangat labil, dimana perkembangan EQ anak masih lepas kendali alias sulit terkontrol.
Oleh sebab itu, marilah kita membiasakan diri untuk berjalan kaki bila hanya sekedar bepergian di tempat yang dekat. Jalan kaki membuat tubuh kita merasa lebih fresh dan terhindar dari penyakit. Kita bisa mengambil contoh dari apa yang dilakukan oleh masyarakat di negara maju (terutama Jepang) yang sangat hobi berjalan kaki.
Wassalam.

Penulis: JK, admin of Sisir Batu's Weblog.

0 komentar: