31 Desember 2011

Revolusi Sepeda Motor, Hak Pejalan Kaki Terancam

Sepeda motor adalah sebuah kendaraan yang paling banyak diminati oleh masyarakat Indonesia, seperti halnya masyarakat Sisir Batu karena praktis dan mampu melawan kemacetan. Sesuai dengan artikel dari harian Jawa Pos, 1 Januari 2012 yang ditulis oleh Dahlan Iskan, bahwa revolusi sepeda motor saat ini telah memberikan banyak kemudahan pada masyarakat saat ini, mengingat sepeda motor adalah kendaraan yang mudah dijangkau dengan jarak terpaut 5-10 km setara dengan orang naik bus malam. Masyarakat juga dimudahkan dengan adanya cicilan kredit motor yang menggiurkan dengan hanya bermodalkan KTP dan uang 500.000, sehingga masyarakat menengah kebawah pun bisa menjangkaunya. Memang, sekilas tampaknya artikel tersebut merupakan kabar gembira karena saat ini banyak masyarakat kita yang sudah memiliki dan menggunakan sepeda motor untuk keperluan formal ataupun informal, seperti sekolah, bekerja, dan sholat Jum'at di masjid. Masyarakat juga tidak perlu lagi memanfaatkan transportasi umum tatkala hendak bepergian karena mereka berpikir dengan menggunakan sepeda motor dapat mempersingkat waktu untuk sampai ke tujuan.
Namun yang menjadi permasalahan disini adalah jumlah peningkatan pengguna motor yang semakin tinggi selama bertahun-tahun seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, sementara ruas area jalan tetap sama. Secara otomatis kondisi semacam ini berpotensi menimbulkan dampak kemacetan dan rawan kecelakaan tentunya. Belum lagi saat terjadi kemacetan, banyak pengendara motor yang akhirnya naik ke trotoar untuk melawan arus. Sebenarnya tidak hanya di trotoar saja, di gang-gang kecil yang umumnya digunakan orang untuk berjalan kaki pun akhirnya menjadi tempat bagi pengendara motor untuk melewati jalan pintas ketika di jalan raya sedang macet total. Lalu dimanakah para pejalan kaki bisa memperoleh ruang kalau keadaannya begini?Mengingat pula pengendara motor adalah salah satu pengguna jalan yang kebanyakan tidak mau mengalah bahkan disalahkan sekalipun, seperti dengan mobil dan pejalan kaki. Mereka merasa bahwa pengguna motor mendominasi area jalan raya, seakan-akan mereka adalah "King of Street" bagi pengguna jalan yang lain.
Saat ini jumlah pejalan kaki di kawasan Kota Batu sangat sedikit, bahkan mungkin tidak ada sama sekali. Masyarakat cenderung dimanjakan oleh mesin, seakan-akan kedua kaki mereka tidak lagi berfungsi secara vital dan alamiah untuk berjalan kaki. Padahal kedua kaki kita merupakan anugerah dari Sang Maha Kuasa yang harganya tak ternilai. Coba bayangkan, saat kedua kaki kita patah karena kecelakaan, untuk menggantinya dengan kaki palsu memerlukan biaya yang sangat mahal sampai belasan juta tanpa bisa dikredit seperti halnya membeli motor. Sedangkan masyarakat saat ini cenderung suka mengendarai motor walaupun jaraknya hanya terpaut sekitar 10 meter. Yang lebih miris lagi adalah pengguna sepeda motor dikalangan anak-anak remaja yang emosinya masih labil. Jika mereka tidak memiliki SIM resmi (bukan SIM tembak), secara otomatis mereka tidak pengetahuan tata cara berkendara dengan baik, sehingga saat mereka mengedarai motor di jalan banyak melakukan pelanggaran yang ujung-ujungnya terjadi kecelakaan. Biasanya mereka suka mengendarai motor hanya sekedar untuk ajang pamer, narsis, dan meninggikan gengsi belaka, sementara mereka belum bisa mengendalikan emosi dengan baik saat berkendara sehingga bisa membahayakan keselamatan orang lain. Mereka terjebak di dunia mimpi, dimana mereka sangat terobsesi dengan pengendara motor seperti Valentino Rossi dan Casey Stoner, dimana kedua orang ini adalah pengedara favorit di dunia MotoGP karena mereka bisa mengendarai dengan kecepatan tinggi. Tidak heran bahwa saat ini banyak adanya aksi balap liar dari kalangan anak-anak remaja guna menyamai kemampuan Rossi dan Stoner, padahal untuk bisa menjadi pengendara handal seperti mereka perlu banyak waktu untuk latihan berkali-kali dan perlu perjuangan yang sangat berat untuk bisa menjadi pengendara profesional seperti sekarang ini. Sementara kebanyakan para pelaku balap liar, tanpa latihan seberat apapun, langsung terjun ke jalan begitu saja dan mengabaikan aturan-aturan berkendara demi memenuhi hasrat obsesi idola mereka. Kalau sudah begini kan nyawa orang lain yang menjadi ancaman, terutama para kaki yang lebih rawan.
Di negara maju saja, para pejalan kaki sangat dihargai eksistensinya. Mereka memperoleh ruang dan fasilitas yang cukup luas dan nyaman untuk berjalan kaki tanpa perlu khawatir diserempet oleh motor seperti yang terjadi di Indonesia. Cobalah mereka sadar dan bisa bersyukur, banyak orang yang cacat kaki ingin memiliki kaki agar bisa berjalan seperti orang-orang yang memiliki kaki yang normal. Janganlah gampang dimanja oleh kendaraan sepeda motor. Bagi mereka yang tidak memiliki SIM atau masih dibawah umur, lebih bijak jika mereka memanfaatkan transportasi umum dan jalan kaki untuk bepergian. Daripada mereka kena tilang atau terjadi kecelakaan karena tidak bisa mengendalikan emosi mereka karena faktor usia labil lalu kemudian terjadi kecelakaan, bukankah lebih baik mereka jalan kaki saja?Ingat, jangan memaksakan kehendak memiliki motor hanya karena sebatas gengsi dan berpikir instan belaka.

0 komentar: