Seiring dengan tumbuhnya volume kendaraan pribadi, khususnya sepeda motor, belakangan ini pemerintah kota Malang Raya berencana membangun proyek jalan tol Malang-Pandaan yang akan dilaksanakan tahun ini. Dalam benak kita, kita pasti bertanya-tanya, untuk apakah proyek pembangunan jalan tol?Jawabannya tak lain adalah untuk menanggulangi kemacetan, bukan menekan angka/volume kemacetan. Yang membuat perasaan saya miris adalah tatkala banyaknya lahan-lahan warga yang pada akhirnya nanti tergusur akibat proyek pembuatan jalan tol besar-besaran. Malahan beberapa pekan sebelumnya di media cetak/internet sempat diberitakan ada sejumlah warga yang protes tentang proyek ini karena terimbas pada penggusuran lapangan sepak bola dan pemakaman Cina. Belum lagi area persawahan, ladang, dan rumah-rumah pinggiran. Padahal kemacetan yang terjadi di Malang Raya akhir-akhir ini lebih disebabkan oleh meningkatnya volume kendaraan pribadi dari tahun ke tahun sementara ruas area jalan tetap sama. Kalaupun sudah dibangun jalan tol, belum tentu kemacetan akan berkurang dengan sendirinya, malah mungkin akan semakin bertambah parah. Akar permasalahannya adalah penjualan kendaraan pribadi yang semakin meningkat ditambah lagi dengan problem-problem lainnya seperti pertambahan penduduk dan permintaan konsumen pada pasar otomotif yang semakin tinggi. Kenapa pemerintah Malang Raya tidak terpikirkan soal pembangunan transportasi umum yang nyaman ataupun pengadaan bus sekolah untuk para pelajar?Lihat saja sekarang! Makin tahun jumlah pengguna sepeda motor semakin meningkat, lebih parah lagi jika pemerintah pusat sudah mencabut subsidi BBM kendaraan roda empat pada 4 April 2012, tentu banyak masyarakat yang akan beralih untuk menggunakan motor karena subsidi BBM bagi kendaraan roda dua masih diberlakukan. Area-area untuk pejalan kaki pun juga menjadi masalah akhir-akhir. Lihat saja, banyak trotoar-trotoar yang rusak ditambah lagi dengan pengalihan fungsi trotoar untuk menjadi 'jalan pintas' bagi pengendara motor dan PKL sehingga pejalan kaki sama sekali tidak mendapatkan ruang. Maka tak heran jika jumlah pejalan kaki akhir-akhir ini banyak berkurang bahkan bisa dihitung dengan jari sekalipun.
Maraknya pengguna motor dikalangan remaja dibawah umur, khususnya para pelajar, juga menjadi masalah utama pada topik ini. Pihak sekolah saja sampai kewalahan tatkala melihat area parkir sekolah yang semakin sempit karena banyak para pelajar yang membawa motor ke sekolah. Meskipun pihak sekolah sudah membuat aturan larangan bagi para pelajar untuk membawa motor ke sekolah, namun tetap saja banyak para pelajar yang membawa motor namun dititipkan ke area-area di sekitar sekolah, tepatnya di pentipan motor milik warga. Namun wajib diketahui bahwa lahan milik warga juga terbatas sama halnya dengan area jalan raya. Jika pengguna motor di kalangan pelajar semakin meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan bertambahnya jumlah siswa baru (SMP-SMA) dari tahun ke tahun, apa bukan mustahil jika pada akhirnya banyak area-area perumahan warga yang akan beralih fungsi menjadi lahan parkir siswa?Mungkin untuk saat ini efeknya belum terasa, namun pada 5-10 tahun ke depan nantinya imbasnya baru akan terasa. Berarti sudah saatnya bagi pemerintah di Malang Raya, khusunya di Kota Wisata Batu untuk memberikan fasilitas berupa bus sekolah guna memudahkan para pelajar untuk pergi ke sekolah tanpa harus membawa kendaraan sendiri dari rumah. Itu berarti siswa tidak perlu lagi merogoh uang untuk membeli BBM.
Namun jika pemerintah kota Malang Raya tidak segera mengantisipasi permasalahan yang saya tulis di atas, maka dapat saya simpulkan berbagai macam dampak dibawah ini:
1. Lapangan sepak bola akan semakin langka gara-gara proyek jalan tol, kalau sudah begini masyarakat mau main bola dimana?Apa main di jalanan aspal yang dilalui kendaraan bermotor?Jelas tidak mungkin!
2. Area-area penting seperti pemakaman umum/Cina, rumah pinggiran, sawah, dan ladang akan tergusur dengan sendirinya.
3. Lahan subur yang berfungsi untuk menyerap air saat terjadi hujan atau banjir tertutupi oleh aspal tol yang padat, ntar kalau terjadi banjir gimana?
4. Jasa transportasi umum baik bus, angkot, bahkan jasa ojek akan terancam bangrkut karena saat ini sudah banyak masyakarakat yang sudah memiliki sepeda motor dengan cicilan kredit yang menggiurkan, lebih-lebih para pelajar sekolah tingkat SMP-SMA. Anak sekolahan sekarang mana mau disuruh naik angkot kalau mereka sudah bisa beli motor?
5. Hilangnya hak pejalan kaki karena pemerintah hanya fokus pada proyek pembangunan jalan tol dan perbaikan jalan raya saja, sementara insiatif dari pemerintah untuk memperluas area bagi pejalan kaki sama sekali tidak ada. Ini terbukti bahwa banyak trotoar-trotoar yang rusak & dialihfungsikan oleh pihak-pihak yang tidak memiliki hak untuk menggunakannya, seperti PKL, pengguna motor, mungkin juga area parkir liar.
6. Pengemudi mobil mau tidak mau harus beralih ke motor jika mereka tidak mau membeli Pertamax. Kalau sudah begini keadaannya, jumlah pengemudi mobil 1:10 dengan jumlah pengendara motor 5-10 tahun ke depan. Mobil akan kehilangan eksistensinya di jalan raya.
7. Tempat-tempat penitipan sepeda motor yang dikhususkan untuk para pelajar "pelarian" karena masih dibawah umur akan semakin menjamur (bukannya berkurang) di komplek-komplek sekitar area sekolah. Apa warga mau jika area perumahannya penuh disesaki motor pelajar 5-10 tahun kedepan?Ntar kalo ingin menempatkan pot di teras gimana kalo terasnya dijejali oleh motor-motor para siswa?
8. Sepeda motor akan menjadi "King of Street" & "penjajah jalanan" bagi semua pengguna jalan.
9. Pasar otomotif motor seperti halnya dealer-dealer motor semakin menjamur kemana-mana mengingat semakin suksesnya penjualan motor di pasaran.
9 poin tersebut harus menjadi bahan renungan bagi pemerintah, khususnya Pemkot Malang-Batu untuk sesegera mungkin mengatasi permasalahan ini dengan mengembangkan sistem transportasi umum yang nyaman, aman, dan terjangkau tanpa perlu lagi melakukan pelebaran proyek jalan tol yang menghabiskan banyak lahan warga.
Mohon respon dari Pemkot Malang-Batu.
21 Januari 2012
Proyek Jalan Tol di Kota Malang Raya, Lahan Warga Terancam 'Digusur', Sepeda Motor Jadi 'Raja Jalanan'
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)






0 komentar:
Poskan Komentar